Saya berpendapat atas kasus tersebut sangat merugikan bagi terdakwa, karena sudah 30 tahun mereka di penjara dan baru Selasa malam, 2 September 2014 mereka dibebaskan atas semua dakwaan yang menimpa mereka berdua. Disini sudah bisa diliat bagaimana lemahnya hukum untuk mendapatkan keadilan bagi mereka yang sudah didakwa oleh pengadilan, dan bagaimana kinerja polisi disana untuk mengungkap kasus tersebut?
Mungkin ini bisa jadi pembelajaran untuk negara-negara lain jangan sampai keadilan warganya tidak bisa dipegang penuh oleh hukum dan jangan sampai hukum bisa dibeli, harus ditingkatkan kualitas hukum agar bisa mendakwa tersangka yang sebenarnya jangan orang lain yang tidak bersalah mernjadi terdakwa atas kasus yang tidak pernah mereka perbuat.
Sebaiknya pihak Hukum & NIIC (North Carolina Innocence Inquiry Commission) bisa bekerja sama lebih baik jika ada kasus yang bermotif dengan pemeriksaan DNA. Karena bila mereka bekerja sama tidak mungkin ada kasus seperti tersebut yang bisa sangat merugikan orang lain.
Pihak pengadilan juga jangan sampai cepat memutuskan dakwaan terhadap orang yang menjadi terdakwa, bisa saja orang tersebut bukan yang melakukan kejahatan.
SUMBER
Menelisik aliran kepercayaan Sapta Dharma
Berita :
Dalam kehidupan beragama memang manusia memiliki cara dan alirannya masing-masing. Dalam agama Islam, terdapat banyak sekali aliran yang menjadi kepercayaan dari setiap pemeluknya. Salah satu aliran kepercayaan masyarakat Indonesia adalah Kejawen.
Aliran Kejawen ini juga masih memiliki banyak macam dan ragam, salah satunya adalah aliran kepercayaan Sapta Dharma. Aliran Sapta Darma mewajibkan penganutnya untuk menyembah Hyang Maha Kuasa dan menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci (darma).
Dari berbagai sumber, Wahyu Sapta Darma diterima oleh Bapak Hardjosapoero di Pare, Kediri Jawa Timur pada jam 01.00 WIB, tanggal 27 Desember 1952 tepatnya malam Jumat wage. Hardjosapoero, nama aslinya Arjo Sopuro lahir pada tahun 1910 di Desa Semanding, sebelah Utara kecamatan Pare Kabupaten Kediri.
Menurut kerabat dari penganut aliran kepercayaan ini, Sri Murahmi (57), aliran kepercayaan ini menganut 3 cara sembahyang yaitu sujud, wewarah tujuh, sesanti.
"Ada tiga cara mereka menyembah tuhannya yaitu sujud, wewarah pitu (tujuh), dan sesanti," kata Sri, Senin (12/5).
Para pemeluk aliran kepercayaan ini juga memiliki Tuhan. Tuhan menurut pemeluk agama ini, menurut Sri adalah sebuah zat yang mutlak dalam arti yang mendasar Allah Hyang Maha Kuasa adalah Zat yang bebas dari segala hubungan sebab akibat.
Biasanya menurut Sri, saat sembahyang penganut aliran kepercayaan ini duduk bersila dengan posisi sedekap mengarah ke timur dan berada di dalam ruangan kosong sendiri. Setelah melakukan posisi tersebut, penganut aliran ini akan secara pelan-pelan menjatuhkan kepalanya dari posisi duduk bersila tadi menuju sujud, dan biasanya proses ini membutuhkan waktu berjam-jam.
"Kalau sembahyang biasanya mereka duduk bersila dan sedekap di ruangan kosong lalu menjatuhkan kepalanya untuk sujud ke arah Timur. Ini biasanya lama berjam-jam saat proses menuju sujudnya," ujar Sri.
Penganut aliran kepercayaan ini juga memiliki tempat ibadah sama halnya dengan pemeluk agama lainnya. Sri mengatakan bahwa mereka biasanya mengunjungi tempat ibadahnya bernama Sanggar.
"Tempat ibadahnya namanya Sanggar, ada dua macam sanggar pertama Sanggar Candi Sapto Renggo dan Sanggar Candi Busono. Candi yang pertama hanya ada satu di Yogyakarta," Kata Sri.
Analisis (Q & A) :
- What?
Q : Apa yang menjadi salah satu agama bagi masyarakat Indonesia dalam berita tersebut?
A : Kejawen
- Who?
Q : Siapa yang mendapatkan Wahyu Sapta Darma pertama kali?
A : Bapak Hardjosapoero
- When?
Q : Kapan Bapak Hardjosapoero mendapatkan Wahyu Sapta Darma?
A : Tanggal 27 Desember 1952 tepatnya malam Jumat wage.
- Where?
Q : Dimana Bapak Hardjosapoero mendapatkan wahyunya?
A : Di Pare, Kediri Jawa Timur pada jam 01.00 WIB.
- Why?
Q : Mengapa sampai ada aliran agama Kejawen di Indonesia?
A : Karena masyarakat Indonesia mempunyai kepercayaan yang beragam atas agama yang dipeluknya.
- How?
Q : Bagaimana aliran Sapta Darma bisa sampai di Indonesia?
A : Aliran Sapta Darma bisa sampai di Indonesia karena salah seorang yang tinggal di Pare, Kediri Jawa Timur mendapatkan wahyu pertamanya, banyak sumber yang mengenalnya bernama Bapak Hardjosapoero. Waktu detilnya Bapak Hardjosapoero mendapatkan wahyu pertamanya pada tanggal 27 Desember 1952 tepatnya malam Jumat wage, pukul 01.00. Nama Hardjosapoero ialah bukan nama asli dari penduduk tersebut, nama aslinya melainkan adalah Arjo Sopuro yang lahir pada tahun 1910 di Desa Semanding, sebelah Utara kecamatan Pare Kabupaten Kediri.
Sri Murahmi (57) adalah kerabat dari penganut aliran kepercayaan ini memberitahukan bahwa aliran kepercayaan ini menganut 3 cara sembahyang, yaitu : sujud, wewarah tujuh, & sesanti. Agama ini pun juga mempunyai tuhan seperti agama lain dengan arti zat mutlak seperti mendasar dari Allah Hyang Maha Kuasa. Arti lengkapnya ialah zat yang tidak ada sebab akibatnya.
Untuk cara sembahyangnya para penganut aliran ini dengan duduk bersila dan sedekap di ruangan kosong lalu menjatuhkan kepalanya untuk sujud ke arah Timur. Setelah melakukan posisi tersebut, penganut aliran ini akan secara pelan-pelan menjatuhkan kepalanya dari posisi duduk bersila tadi menuju sujud, dan biasanya proses ini membutuhkan waktu berjam-jam. Tempat ibadahnya sendiri bernamakan sanggar. Sanggar tersebut disebutkan menjadi 2 yaitu Sanggar Candi Sapto Renggo dan Sanggar Candi Busono.
Pendapat :
Menurut saya agama tersebut bisa dipeluk orang banyak, karena tidak ada batasan tentang seseorang memeluk sebuah kepercayaan. Jika agama tersebut mengajarkan kebaikan kenapa takut untuk di percaya? bagi seseorang untuk memeluk sebuah agama ialah dari ajaran kebaikannya yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Solusi :
Jika agama Sapta Darma tidak merugikan sebaiknya bisa diakui secara nasional, agar tidak menjadi pikiran-pikiran negatif dari agama lain yang belom mengenal agama tersebut. Untuk agama yang dianut orang lain sebaiknya menghormati orang memeluk aliran Sapta Darma agar bisa hidup rukun bersama-sama.